Musik Sebagai Kendaraan Kasual Pemberontakan Anak Muda: Mengingat Sejarah Revolusi Anak Muda

Oleh: Alvin Yunata

 

Berbicara soal musik dan sejarahnya di Indonesia, Presiden Soekarno resmi mendirikan perusahaan rekaman musik pertama milik negara, pada tanggal 29 Oktober 1956 bernama Lokananta. Bayangkan berapa banyak negara yang memiliki perusahaan rekaman? Tidak banyak atau tidak ada? Atau hanya di Indonesia? Pada era 50-an tersebut, lahir lagi beberapa perusahaan rekaman musik milik swasta, yang salah satunya adalah: Irama Records, milik seorang Laksamana Suyoso Karsono yang biasa dikenal dengan sebutan Mas Yos.

Musik dan sejarahnya di Indonesia memiliki dimensi di mana peran anak muda sangatlah krusial. Terlebih dalam bidang ini, kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat lewat musik adalah kendaraan yang paling kasual. Siapa pelakunya? Tentunya anak muda, dengan segenap kreasi tanpa batas dari jaman ke jaman.

Peran dan kontribusi anak muda dalam musik dan budaya dianggap sangat penting di kala itu. Sehingga, pada perayaan kemerdekaan tahun 1959, Bung Karno berkata dalam pidatonya,

"Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, – kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansa-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la ngak-ngik-ngèk gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan? Pemerintah akan melindungi kebudajaan Nasional, dan akan membantu berkembangnya kebudayaan Nasional, tetapi engkau pemuda-pemudi pun harus aktif ikut menentang imperialisme kebudayaan, dan melindungi serta mem-perkembangkan kebudayaan Nasional!".

Jelas melalui narasi pidato tersebut, pemerintah melarang dan menentang keras musik “ngak ngik ngok”, lalu apa yang terjadi? Anak-anak muda menjadi gundah, dan demam Rock n Roll kian membuncah.

Meskipun saat itu peraturan pemerintah mengekang, tapi hasrat rock n roll anak muda tak terbantahkan. Sebagian besar dari mereka mencari solusi menghibrida musik rock n roll lewat lagu-lagu daerah atau tema nasionalisme. Salah satu momen tak terlupakan saat itu, terjadi di sebuah rumah dalam acara pesta seorang perwira pada tanggal 29 Juni 1965. Di acara pesta tersebut, kelompok musik Koes Bersaudara dan Dara Puspita berbagi panggung membawakan beberapa nomor dari The Beatles, dan penangkapan terhadap mereka berlangsung. Koeswoyo bersaudara masuk ke dalam bui sementara para Dara terkena wajib lapor, memang pada saat itu ada keistimewaan bagi musisi perempuan. Pada tiap kedatangan wajib lapor, para Dara harus menghibur segenap aparat dengan menyuguhkan beberapa lagu. Dari momen tersebutlah mengapa pada lagu “Marilah Kemari” para Dara menyematkan intro lagu “Satisfaction” milik Rolling Stones dengan tujuan mengejek momen tersebut. Kendaraan kasual seperti ini terus digunakan para muda mudi dalam berekspresi dari jaman ke jaman. Salah satu cerita perlawanan lainnya, di kala pemerintah orde baru melawan keras model rambut gondrong. Titiek Puspa lewat lagu “Rambut Gondrong” mengemukakan pendapatnya, begitu juga dengan Usman Bersaudara lewat judul serupa.

Playlist di bawah ini mungkin hanya opini saya pribadi dalam mencerminkan kebebasan dan perlawanan anak muda lewat musik pada jamannya, tidak hanya sekedar dari lirik namun juga rasa. Dari jaman ke jaman, anak muda yang kritis selalu melakukan perlawanan dengan gaya dan caranya.

 Musik dan revolusi anak muda. Gambar oleh Irama Nusantara.

Musik dan revolusi anak muda. Gambar oleh Irama Nusantara.